Hari ini murid-murid pulang lebih awal karena guru-guru akan mengadakan rapat . kemarin Ika sudah memberi tahu pengumuman itu kepada Ibunya. Tapi sayangnya tadi pagi Ika lupa mengingatkannya lagi mudah-mudahan Ibu tidak lupa, harap Ika.
Sementara sebagian besar murid TK Permata Hati sudah pulang, Ika masih menunggu dijemput Lisa, teman baik Ika , juga masih menunggu, tapi sebentar kemudian sopirnya sudah datang.
“Ika, kamu ikut aku ya. Nanti diantarkan Pak Sopir ke rumahmu.” Tawar Lisa.
“Aku mau menunggu Ibuku,” jawab Ika.
“Kita sudah lama sekali menunggu. Pasti Ibumu lupa. Ayo naik!” ajak Lisa.
“Mungkin Ibuku masih di jalan. Aku mau menunggunya saja.”
“Ya, sudah.. da.. da.. Ika.” Lisa melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil.
Sekarang Ika menunggu sendirian, hatinya mulai berdebar-debar, jangan-jangan benar dugaan Lisa. Ibu lupa menjemputku. Ah, tidak mungkin! Selama ini Ibu yang mengantar dan menjemputnya. Kalaupun Ibu tidak sempat biasanya Ibu menyuruh Pak Nano, tukang becak yang mangkal di dekat rumah, untuk menjemput Ika.
Rumah Ika sangat jauh. “Kalau saja, Ibu mengijinkan aku bawa sepeda ke sekolah seperti kemarin.”ucap Ika dalam hati. Sayangnya Ayah dan Ibu tidak setuju. Alasannya Ika akan kecapean mengayuh sepeda. Apalagi Ika harus melewati jalan besar. Disana banyak bus dan truk yang lalu lalang. Akan sangat berbahaya buat anak kecil seperti Ika. Apalagi Ika belum hafal jalan-jalan dikotanya. Baru satu bulan Ika dan keluarganaya tinggal di kota ini.
Ika sangat lelah menunggu. Ibu belum tampak juga. “Bisa-bisa aku sendirian di sekolah,” gerutu Ika sambil mondar-mandir di depan sekolah. Ika menyesal tidak menuruti ajakan Lisa mungkin kalau ikut mobil Lisa, Ika sudah sampai di rumah.
Ika jengkel sekali pada Ibunya. Ia tidak tahu mengapa Ibu tidak kunjung datang menjemput samapi saat ini. “Aduuh, aku mesti gimana? Aku tidak tahu jalan pulang,” Ika bingung.
Karena berpikir terlalu keras, bagaimana caranya untuk pulang, kepala Ika terasa sangat berat. Dengan lesu Ika berjalan ke kantor guru. Ika berharap bisa menceritakan masalahnya pada gurunya.
Masih ada bayak guru di kantor. Mereka baru saja selesai rapat. Ika memberanikan diri memasuki ruangan itu. Ketika tiba di depan pintu, tiba-tiba Ia sangat khawatir, apakah guru-gurunya bisa membantunya? Ika masih berdiri saja di pintu.
“Lho, Ika belum pulang? Belum dijemput?” sapa Bu Sarah begitu melihat kehadiran Ika.
“Belum, Bu.”
“Rumah Ika dimana?” tanya Bu Sarah.
Lalu Ika menjawabnya. Ia ingat alamatnya karena Ibu telah berulang kali mengingatnya untuk menghafal alamat rumahnya yang baru. Juga jalan-jalan penting yang sering mereka lalui. Awalnya Ika tidak peduli tapi karena Ibu sering mengingatkan, lama kelamaan Ika hafal juga. Ternyata penting sekali uintuk mengingat alamat rumah karena akan mempermudah seseorang untuk mencari alamat rumah.
Bu Sarah kasihan pada Ika. Ia berniat menolong, “Kalau begitu, tunggu Ibu sebentar. Nanti Ibu antarkan, karena rumah kita satu arah.” Kata Bu Sarah sambil membereskan kertas-kertas yang ada dimejanya. Ika tersenyum lega. Semoga perjalanan ini lancar. Mudah-mudahan Bu Sarah tak melalui jalan pintas. Ika bisa kehilangan arah karena ia hanya mengenal jalan-jalan besar si kotanya. Syukurlah, Bu Sarah berhasilmembuat perasaannya tenang karena Bu Sarah sudah tahu jalan menuju rumahnya Ika hanya sedikit memberi petunjuk.
“Terima kasih, Bu Sarah,” kata Ika setelah tiba di rumah. Bu Sarah menitipkan salam buat Ibunya dan segera berlalu pulang. Ika langsung mencari Ibunya. Ternyata Ibu masih ada di dapur. “Lho, Ika sudah pulang.” Sapa Ibu kaget.
Lalu Ika mengingatkan Ibunya tentang rapat guru hari ini. “Oh, Ibu minta maaf, ya. Ibu lupa,” kata Ibu sambil memeluk Ika. Ika masih cemberut. “Tapi bagaimana Ika bisa pulang?” tanya Ibu penasaran.
“Bu Sarah mengantar lagi, tadi Ika juga memberi petunjuk agar sampai di rumah,” ucap Ika.
“Alhamdullilah, Ika sudah hafal jalan pulang,” syukur Ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar