Pada suatu masa seorang raja Persia yang masih cukup muda berkeliling di wilayah kerajaannya dengan iringan para pengawal. Sang raja bermaksud melihat langsung kondisi masyarakat yang dipimpinnya.
Ketika sampai di sebuah desa, sang raja melihat seorang lelaki tua tengah menanami sebidang kebun dengan tekunnya. Dengan tangan sendiri, sang lelaki tua menggali tanah dan menanam bibit tanpa begitu mempedulikan keadaan sekitarnya.
Raja pun tertarik melihat ketekunan sang lelaki tua. Dihentikannya iringan kuda, lantas sang raja mendekat dan bertanya, “Wahai kakek, apa yang tengah engkau lakukan?”
Sang lelaki tua menghentikan pekerjaannya dan mengenali sang Raja. Dia lalu menjawab, “Aku sedang menanami kebunku ini dengan beraneka pohon buah, Baginda.”
Sang Raja kembali memperhatikan sang Kakek. Dia benar-benar terlihat begitu tua. Kulitnya keriput dan tubuhnya bahkan kelihatan lemah karena sudah begitu renta. Mengapa ia mau bersusah payah menanam pohon ya?
“Wahai Kakek, untuk apa Anda menanam pohon buah yang membutuhkan bertahun-tahun lamanya untuk tumbuh menjadi besar? Bahkan, kalaupun pohon itu kelak menghasilkan buah, bukankah kemungkinan besar engkau tak akan sempat menikmati hasilnya?” tanya Raja terheran-heran
Sang Kakek tersenyum mendengar pertanyaan Raja yang masih muda itu.
“Baginda, bukankah setiap buah yang kita makan dari pohon-pohon yang ada di kebun kita sesungguhnya merupakan pohon-pohon yang ditanam oleh kakek dan buyut kita di masa lalu? Maka, saya berkeyakinan, kalaupun Allah tak memberi kesempatan saya menikmati buah dari pohon-pohon yang saya tanam, setidaknya, anak, cucu atau cicit saya dapat menikmatinya. Karena itulah saya tak ragu untuk tetap menanam pohon-pohon ini. Baginda, meskipun seperti Baginda lihat sendiri, saya sudah tua.”
Raja dan para pengawal yang mendengar merasa terpesona dengan jawaban indah sang kakek tua. Bahkan sang Raja seta merta memberikan sekantung uang sebagai hadiah kepada si Kakek.
“Terimalah hadiah dariku kakek, sebagai penghargaan atas kerja keras dan ketulusan hatimu,” ucap Raja.
Ketika menerima pemberian Raja, sang kakek tersenyum lebar lalu berkata, “Wah-wah-wah, ternyata tak menunggu lama bagi hamba untuk melihat hasil usaha hamba menanam pohon buah ini...”
Sang Raja yang ikut senang dengan kegembiraan sang Kakek menghadiahinya lagi sekantung uang. Dan kali ini sang Kakek berkata dengan hangat pada rajanya.
“Engkau lihat, wahai Baginda Raja, meski baru ditanam pohonku ternyata sudah berbuah hingga dua kali dan memberikan manfaat bagi diriku.”
Mereka semua tertawa dan mengambil pelajaran dari perilaku Kakek bahwa kebaikan tak perlu ditunda-tunda selama masih ada kesempatan kita melaksanakannya.
Ketika sampai di sebuah desa, sang raja melihat seorang lelaki tua tengah menanami sebidang kebun dengan tekunnya. Dengan tangan sendiri, sang lelaki tua menggali tanah dan menanam bibit tanpa begitu mempedulikan keadaan sekitarnya.
Raja pun tertarik melihat ketekunan sang lelaki tua. Dihentikannya iringan kuda, lantas sang raja mendekat dan bertanya, “Wahai kakek, apa yang tengah engkau lakukan?”
Sang lelaki tua menghentikan pekerjaannya dan mengenali sang Raja. Dia lalu menjawab, “Aku sedang menanami kebunku ini dengan beraneka pohon buah, Baginda.”
Sang Raja kembali memperhatikan sang Kakek. Dia benar-benar terlihat begitu tua. Kulitnya keriput dan tubuhnya bahkan kelihatan lemah karena sudah begitu renta. Mengapa ia mau bersusah payah menanam pohon ya?
“Wahai Kakek, untuk apa Anda menanam pohon buah yang membutuhkan bertahun-tahun lamanya untuk tumbuh menjadi besar? Bahkan, kalaupun pohon itu kelak menghasilkan buah, bukankah kemungkinan besar engkau tak akan sempat menikmati hasilnya?” tanya Raja terheran-heran
Sang Kakek tersenyum mendengar pertanyaan Raja yang masih muda itu.
“Baginda, bukankah setiap buah yang kita makan dari pohon-pohon yang ada di kebun kita sesungguhnya merupakan pohon-pohon yang ditanam oleh kakek dan buyut kita di masa lalu? Maka, saya berkeyakinan, kalaupun Allah tak memberi kesempatan saya menikmati buah dari pohon-pohon yang saya tanam, setidaknya, anak, cucu atau cicit saya dapat menikmatinya. Karena itulah saya tak ragu untuk tetap menanam pohon-pohon ini. Baginda, meskipun seperti Baginda lihat sendiri, saya sudah tua.”
Raja dan para pengawal yang mendengar merasa terpesona dengan jawaban indah sang kakek tua. Bahkan sang Raja seta merta memberikan sekantung uang sebagai hadiah kepada si Kakek.
“Terimalah hadiah dariku kakek, sebagai penghargaan atas kerja keras dan ketulusan hatimu,” ucap Raja.
Ketika menerima pemberian Raja, sang kakek tersenyum lebar lalu berkata, “Wah-wah-wah, ternyata tak menunggu lama bagi hamba untuk melihat hasil usaha hamba menanam pohon buah ini...”
Sang Raja yang ikut senang dengan kegembiraan sang Kakek menghadiahinya lagi sekantung uang. Dan kali ini sang Kakek berkata dengan hangat pada rajanya.
“Engkau lihat, wahai Baginda Raja, meski baru ditanam pohonku ternyata sudah berbuah hingga dua kali dan memberikan manfaat bagi diriku.”
Mereka semua tertawa dan mengambil pelajaran dari perilaku Kakek bahwa kebaikan tak perlu ditunda-tunda selama masih ada kesempatan kita melaksanakannya.